Thursday, September 22, 2016

IBADURRAHMAN HADIR UNTUK JAKARTA
Pemimpin yang baik, sukses, dan hebat tidak lahir secara kebetulan. Setiap pemimpin ingin menjadi menjadi seorang figur pemimpin yang terbaik. Namun, tidak semua pemimpin yang memiliki kiat dan instrumen yang baik tercipta menjadi pemimpin yang baik. Mungkin saja tidak sedikit pemimpin yang mengklaim bahwasannya dirinya adalah pemimpin terbaik, namun itu hanyalah klaim belaka sehingga peluang kesalahan pun juga masih ada. Penyempitan definisi kesuksesan menjadi pemimpin pun sering terjadi, kebanyakan dari pemimpin hanyalah berorientasi pada dimensi dunia saja, sehingga melupakan dimensi ruang yang kekal yakni dimensi akhirat. Dimensi yang sejatinya menjadi muara bagi setiap hasil jerih payah kepemimpinannya.
Jakarta, kota yang menyimpan berjuta-juta cerita elok dan menjadi saksi bisu perjalanan negeri ini. Kota megapolitan yang telah menjadi pusat peradaban bangsa. Berjuta-juta kepala mengadu nasib dan hidup digemerlap didalamnya. Kota yang menyimpan berbagai problematika yang senantiasa menantang kandidat pemimpin untuk mencari jalan keluarnya. Berbagai macam karakteristik pemimpin pun silih berganti menduduki kursi kepemimpinannya. Namun berbagai masalah pun dengan setia senantiasa menghinggapi deruh kehidupan Ibu Kota tercinta. Untuk itu, penting halnya sebagai warga negara untuk cerdas, cermat dan teliti dalam memilih pemimpin yang sesuai dengan apa yang tercantum dalam Al Qur’an dan tuntunan Rasulullah SAW. Lantas pertanyaan yang akan muncul dalam benak ini adalah pemimpin semacam apakah yang dimaksud?.
Pemimpin Ibadurrahman
Sebaik-baik kebijakan dan sejitu-jitunya alternatif solusi, tak akan pernah menjawab problematika permasalahan Ibukota apabila belum adanya jiwa Ibadurrahman yang melekat dalam pemimpin. Pemimpin yang memiliki jiwa Ibadurrahman merupakan figur pemimpin yang memiliki akidah islam yang benar. Secara umum karakteristik dan ciri-ciri dari pemimpin Ibadurrahman yang telah terpatri dalam Q.S Al Furqan ayat 63-77 adalah sebagai berikut.
Pertama, bersifat tawadu’ yang artinya senantiasa rendah hati, ramah, lemah lembun da ketika berjalan dimuka bumi senantiasa penuh kekuatan, keseriusan, ketenangan, kewibawaan dan jauh dari kesombongan yang terbesit dalam hatinya.
Kedua, senantiasa Membalas kejelekan dengan kebaikan. Dalam hal ini sikap mulia mereka tonjolkan  terhadap sesama adalah senantiasa memafkan dan membalas kejelekan orang lain dengan ucapan yang baik.
Ketiga, Senantiasa tahajud dikeheningan malam. Sederhana memang, tapi sulit menemukan sesosok pemimpin yang mau dan mampu menyisihkan waktu di sepertiga malamnya untuk beribadah. Tapi lain halnya dengan pemimpin Ibadurrahman, yang dalam hati mereka selamanya tidak pernah berhenti untuk berdzikir kepada Allah SWT. Mereka senantiasa menghabiskan waktu siang dengan berjuang untuk warganya dan apabila datang waktu malam, mereka menghadap Allah dengan ibadah, dzikir, dan berdo’a serta dalam keadaan rukuk dan sujud.
Keempat, Takut terhadap azab neraka jahanam. Mereka tidak pernah bermalas-malasan dalam beribadah dan mereka tidak menganggap ibadah mereka sebagai sebab masuknya mereka kedalam surga. Akan tetapi mereka memandang bahwa keselamatan dari siksa Allah SWT hanya dapat diraih dengan keutamaan rahmat dari Allah.
Kelima, Tidak berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta artinya dalam kehidupan mereka adalah tauladan yang dapat ditiru didalam sikap ekonomis, pertengahan dan seimbang dalam menginfakan hartanya. Sebab mereka menyadari sepenuhnya bahwa sifat israf (penyia-nyiaan harta bukanpada tempatnya) dan taqtir (pengumpulan harta untuk dirinya sendiri) mampu merusak kehidupan beragama.
Keenam, Tidak beribadah kepada ilah yang lain beserta Allah. Dalam hal ini mereka tidak menjadikan sekutubagi Allah, baik dalam ibadah maupun akidah mereka. Mereka senantiasa mengikhlaskan ibadah mereka hanya kepada Allah semata.
Ketujuh, Tidak bersumpah palsu. Dalam hal kesaksian mereka merupakan orang-orang yang jujur dan tidak menghukumi sesuatu kecuali dengan apa yang mereka lihat dan dalam hal ini mereka tidak terhadap celaan orang yang mencela.
Selain itu juga terdapat berbagai sifat dan karakteristik yang mendarah daging dalam jiwa pemimpin Ibadurrahman. Seperti halnya: tidak membunuh, tidak berzina, tidak melakukan perbuatan yang tidak berguna. ketenangan di dalam keluarga dan keturunan yang shaleh serta menuntut ilmu dan mengharapkan taudik dari Allah SWT.
Kedua belas karakteristik dan ciri-ciri Ibadurrahman tersebut merupakan ciri-ciri sebaik-baik wujud dari figur pemimpin islam yang sebenarnya. Kaderisasi pemimpin berjiwa Ibadurrahman merupakan alternatif untuk melahirkan dan membumikan para pemimpin yang sesuai dengan Al Qur’an dan As sunah. Sehingga kehidupan masyarakat Jakarta yang islami dan penuh dengan ketentraman, ketenangan dan kesejahteraan akan segera terwujud.